Awas, Globalisasi Mengancam DAYAK !!!

Akhir-akhir ini, kita banyak mendengar istilah Globalisasi !!. Bagi kelompok etnik Dayak, istilah ini sungguh dianggap remeh. paling tidak beberapa tokoh yang sempat saya temui di 6 kampung Dayak. bagi mereka, biarlah globalisasi terjadi, toh mereka sudah tua dan para pemimpin Dayak sendiri tidak pernah memberitahu tentang bahaya ini. "kami ini sudah tua, jadi biarlah globalisasi itu terjadi. toh, pejabat dan pemimpin Dayak juga tidak paham tenang globalisasi" ujar seorang tetua adat di Sei Ambawang. Sekedar mengingatkan kembali, Globalisasi berarti hilangnya sekat-sekat negara untuk perdagangan dan perpindahan modal, kebebasan berusaha melampaui batas-batas negara, dan juga kebebasan untuk merambah semua sektor perekonomian.Perpindahan modal ini bakal memindahkan penghisapan ke negara dunia...

Ereveld Mandor Dari Republik Tertua Asia, Penyungkupan, dan Kebangkitan Dayak

Mandor hanyalah kota kecil, tepatnya pasar yang terdiri dari deretan ratusan ruko (rumah took) berbentuk segi empat. Jaraknya hanya 88 Km dari Kota Pontianak. Jalannya sangat lebar dan licin dengan status jalan internasional. Maklum, menuju Kuching-Sarawak, dari Pontianak, orang akan melewati Kota Mandor. Sebelumnya, Mandor luput dari perhatian public. Awal Juni 2008, Mandor menjadi perhatian public kembali setelah kampanye media yang dilakukan Tanto Yacobus, dkk dari Tribune Institute Pontianak. Tanto menginisiasi pembuatan sebuah blogspot khusus peristiwa Mandor. Koran Borneo Tribune, juga menampilkan berita-berita seputar peristiwa Mandor. Hal ini, menurut Nur Iskandar, Pimred Borneo Tribune karena masoh ada sisi gelap peristiwa ini yang belum terungkap, adahal pemerintah propinsi Kalimantan...

CINA DALAM DAYAK

Orang Darat (dayak) memanggilnya “sobat”, mereka memanggil orang darat “laci”. Anak hasil perkawinan Cina dengan Dayak disebutnya “Pantokng” dan sebaliknya anak hasil perkawinan Dayak dengan Cina dikenal sebagai Pantongla. Keadaan ini banyak terjadi diwilayah yang dulunya disebut-sebut sebagai daerah kekuasaan Republik Monterado (Kabupaten Sambas) dan Republik Lan Fang di Mandor (Kabupaten Pontianak).Cina memang unik, sejak migrasinya ke Kalimantan Barat, mereka memperkenalkan “padi” pada orang Dayak. Mereka juga memperkenalkan tembikar serta alat-alat baru berupa beliung dari batu. Bellwodd (1985) mencatat, dalam permulaan Kala Holosen, kira-kira 7.000 tahun yang lalu, padi liar dan padi-padian lain dibudidayakan dipunggung daerah aliran sungai Yangtze, yaitu dilahan-lahan basah musiman...

Dayak Kanayatn dan Konflik Antar Etnik

“ Ketika hidup ditepi sungai kami diganggu dan dipaksa untuk bayar pajak dan hak-hak lainnya dirampas, maka kami akan pindah ke daratan ( baca: pedalaman ), jika didaratan kami diganggu lagi, maka kami akan pindah ke bukit-bukit, jika dibukit kami diganggu, maka kami akan tinggal ke gunung-gunung, jika digunung kami diganggu, maka kami akan hidup ketepi jurang, tetapi bila ditepi jurang kami tetap diganggu maka kami akan melawan sampai titik darah penghabisan”.( Singa Djumin, Kepala Adat Kaca’ )Kutipan diatas menyentak kesadaran generasi masa kini. Selain menyiratkan bahwa suku ini tergolong “ganas”, muncul juga makna lain dari betapa tertindasnya...

Pages 351234 »

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCpenney Printable Coupons