THE ESTERN SEAS

Dua ratus tahun yang lalu, George Windsor Earl, melakukan perjalanan ke pulau Borneo. Ia Nahkoda Kapal Stamford pada Tahun 1834. Perjalanan yang cukup mengesankan tersebut dituliskan dalam bukunya yang berjudul “The Estern Seas.” Kapal Stamford yang dinahkodainya ini disewakan oleh pengusaha-pengusaha Cina di Singapura untuk ke Borneo, khususnya Monterado dan Sinkawang yang waktu itu dikuasa Cina dengan maksud untuk menjajaki kemungkinan diadakannya hubungan dagang bilateral dengan Singapura. G. W Earl pria Inggris yang lahir pada tahun 1805. Selain mahir dalam ilmu pelayaran dia juga banyak tahu tentang sejarah, hukum, dan politik. Karenanya tulisan yang berupa catatan perjalanan ini berisi pandangan dan catatan yang memiliki nilai lebih mengasyikkan. Pengalaman G. W Earl tahun 1834 tersebut diterbitkan pertama dalam bahasa Belanda tahun 1918 oleh J.B Wolters, Groningin tahun 1932 dialih bahasakan ke bahasa Inggris dan dicetak di tahun 1971 oleh Oxford University Press, kemudian dicetak di Hongkong oleh South China Photo Precess Printing Co.Ltd.

dikisahkan dalam buku itu, G. W Earl mengawali catatan perjalanannya dengan judul Menuju ke Tempat Asing. Diawal bulan Februari 1834, suatu laporan masuk ke Singapura. Laporan itu berisikan bahwa penduduk dari sebuah koloni China di Pantai Barat Borneo menginginkan hubungan dagang dengan para pengusaha di Singapura terutama Cina. Karena itulah para pengusaha Cina dari Singapura memutuskan untuk mengirimkan ekspidisi dagang ke tempat tersebut dan mempercayakan kepada Earl untuk memimpinnya. Dan tentu saja hal tersebut tidak disia-siakan dan kemudian diterima dengan baik. Untuk melakukan hubungan dagang tersebut, sebuah papal layar inggris bernama Stamford disewa dan Earl ditunjuk sebagai nahkoda. Cargo yang dimuat dalam kapl itu antara lain, candu, teh dan barang-barang lain yang diharapkan kelak akan dapat ditukar dengan hasil tambang emas yang kononnya banyak terdapat di Borneo. 1 Maret 1834, jam tiga pagi stamford bertolak meninggalkan selat Singapura melalui jalan masuk s├ębelah timar di dekat pulau Karang Pedra Bianca dan disambut angin kencang dari utara yang memasuki Laut Cina Selatan. Bagi Earl, Borneo yang dituju merupakan pulau yang masih asing dan gelap. Saat berangkat G. W. Earl juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan tenaga perwira kapal yang berkebangsaan Eropa, mengingat kelak bila sampai di tempat tujuan harus meninggalkan kapal untuk ke daratan harus ada perwira kapal yang dapat dipercaya. Namun saat itu Earl hanya dipuaskan dengan perwira kapal seorang melayu keturunan Portugis. Selain itu, menurut Earl dalam kapalnya terdapat tiga puluh lima orang anak buah kapal dari suku Jawa, delapan Cina yang dua diantaranya adalah penterjemah, penjaga dan penimbang cargo merangkap peneliti emas yang kelak akan diterima. Dari keterangan sementara yang diperoleh G. W Earl, Belanda memiliki dua settlement yang kecil di pantai barat Borneo terpisah satu sama lain di pinggir dua sungai terpisah Kira-kira sembilan puluh mil, yaitu Pontianak dan Sambas. Koloni Cina terletak di antara dua tempat tersebut. Pernah sebuah kapal Inggris di tahun 1827 berkunjung ke tempat itu, namun tidak seorang pun yang dapat ditemui guna mendapatkan informasi. Lebih susah lagi nama Sinkawan yang merupakan pelabuhan penting bagi orang-orang cina tidak tercantum dalam peta.

Petang hari pada tanggal tiga Maret G. W Earl sampai di pulau St. Julien. Dari kejauhan pulau tersebut telah terlihat. Kemudian keesokan harinya, Earl beserta rombongan melintasi ujung paling selatan dari gugusan kepulauan St. Esprit. Pulau-pulau yang terpencar di bagian laut Cina Selatan ini tertutup oleh hutan kayu dan umumnya tanpa penghuni. Kecuali kepulauan Tambelan yang sering kali dikunjungi oleh bajak-bajak laut sebagai tempat persinggahan dari Borneo ke Selat Malaka. Para perompak tersebut ada yang meninggalkan beberapa orang anggotanya guna mengawasi hasil-hasil rompakan dan tawanan-tawanan yang ditangkap. Menurut G.W Earl, dua orang Cina dalam rombongannya ada yang sudah berusia lanjut dan merupakan pengisap candu yang berat, meskipun sudah dilarang untuk menghisap dalam kapal. Selama dua hari mereka sangat sedih dan nampak sangat lemah bahkan hampir-hampir Earl ingin melarang dua orang cina tesebut untuk tidak menghisap madu. Namun di hari ke tiga, kedua orang tersebut nampak lebih segar dan Earl baru tahu bahwa cara menghisap candu mereka sudah diganti dengan mengunyah candu tersebut. Nampaknya kebiasaan menghisap candu tak dapat dihilangkan, apakah karena kebetulan mereka berdua Cina asli dan totok kelahiran Tiongkok, sedangkan kelima Cina lainnya kelahiran Malaka yang kebetulan dalam rombongan tersebut tak seorang pun punya kebiasaan menghisap candu.

Tujuh Maret siang hari, Earl dan rombongannya melihat kepalauan Lamakutan. Kepulauan itulah yang mereka tuju. Tak lama kemudian pun mereka membuang jangkar dan hari pun sudah menjelang petang. Dari Lamakutan itulah Earl dan rombongan berharap, mudah-mudahan Sinkawan yang dituju semakin dekat. Keesokan harinya, disaat matahari mulai terbit, Earl beserta rombongan mulai turun ke darat menuju arah pantai dan teluk untuk memastikan apakah ada tanda-tanda kehidupan di pulau itu. Namun tak sedikitpun tanda-tanda kehidupan dan mahluk hidup, seperti manusia yang muncul. Tak ada pondok, perahu atau sesuatu yang menunjuk ke arah sana. Teluk yang didarati Earl tertutup hampir seluruhnya oleh gundukan tanah yang makin ke darat semakin meninggi. Waktu itu, Earl menggambarkan seolah olah mereka berada di sebuah danau di pedalaman dalam ketenangan air. Salah seorang Cina dan seorang tukang kayu Jawa yang katanya pernah berkunjung ke Sinkawan tak dapat memberikan informasi yang jelas di mana letak Sinkawan. Ketika rombongan Earl masuk ke muara dengan sekoci dan awak yang dipersenjatai, bersama dengan dua orang penterjemah untuk memastikan adanya kehidupan, namun tetap sia-sia.

Karena pendaratan yang dilakukan tidak ada hasil, keesokan harinya Earl beserta rombongannya kembali melanjutkan perjalanan kembali dan tetap menyusuri pantai untuk kemudian sampailah mereka pada sebuah muara sungai yang cukup besar. Earl memperkirakan jarak dari kapal berlabuh ke muara tersebut diperkirakan dekat, ternyata cukup jauh hampir dua mil. Ketika mereka memasuki muara dengan sekoci dan lengkap dengan anak buah kapal seperti pendaratan sebelumnya terasa sangat mengasyikkan. Tepian sungai yang dilalui tersebut terasa sangat sempit dengan dahan-dahan perpohonan di kanan kiri, seakan-akan saling berangkulan satu sama lainnya. Dua ekor buaya dengan panjang lebih kurang lima kaki yang sedang berbaring terkejut melewati sekoci mereka. Salah satu diantaranya langsung terjun ke sungai menerobos ke air dekat sekoci. Kira-kira seratus yard dari muara sungai, ketika Earl dam rombongan masuk dipasang barikade tonggak-tonggak kayu selebar sungai menahan perjalanan, namun di tengah-tengah terdapat ruang selebar hampir empat kaki memberikan ruang untuk dilalui. Merskipun demikian hampir diperlukan waktu setengah jam untuk lebih leluasa bagi sekoci untuk melewatinya. Tak berapa jauh, masih terlihat bekas-bekas brikade dengan tumpukan-tumpukan lumpur dan tanah menyerupai pertahanan di dalamnya. Dapat diduga bahwa di situlah tempat pertahanan untuk menghalangi masuknya orang atau pendatang asing.

Dalam perjalanannya, Ear berserta rombongan disambut beberapa ekor monyet berwarna sawo mateng. Monyet-monyet tersebut turun dari puncak pohon sambil berteriak memekakkan telinga. Semakin dicoba untuk dihalau, maka semakin lantang teriakan monyet tersebut. Setelah ke hulu sungai, kira-kira sejauh dua mil dijumpai sebuah pondok yang dihuni oleh dua orang Cina yang sedang memasak air laut untuk membuat garam. Mereka gempar kerena kemunculan Earl beserta rombongan yang tiba-tiba. Namun orang Cina tersebut kembali tenang setelah mendapatkan penjelasan penterjemah yang ikut serta. Dua Cina tersebut akhirnya menjelaskan bahwa sungai yang dilalui tersebut bernama Songy Ryah, dan Sinkawan yang dituju menurut mereka masih lima belas mil menyusuri pantai untuk kemudian masuk ke muara sungai serupa dengan Songy Ryah. Kata Cina tersebut, Sinkawan terletak di tepian sungai membelakangi gunung dan menghadap ke laut.Setelah mendapatkan penjelasan dua orang Cina pembuat garam di Sungy Ryah, G. W Earl kembali melanjutkan perjalanan. Saat kembali menghilir menuju pantai, monyet-monyet yang menyambut kedatangan mereka masih saja mengikuti sambil menjerit-menjerit. Karena tak dapat menahan kegeraman, Earl kemudian melepaskan tembakan dan mengenai salah satu dari gerombolan. Monyet itu jatuh terjerembab di atas tanah. Pengikut kera yang lainnya kemudian berhamburan meluncur dari atas dahan dan penuh tanda tanya akan peristiwa yang menimpa kawannya. Pekikan monyet itu akhirnya berhenti, sebagian kecil masih tetap mengikuti rombongan, meskipun dari jarak yang agak jauh dan lebih tinggi di atas pohon dengan lompatan dari dahan ke dahan dengan cekatan. Setibanya di atas kapal, Earl kembali mengangkat jangkar untuk berangkat menyusuri pantai ke utara. Rupanya, selama Earl melakukan penyelidikan pantai, para anak buahnya yang tinggal menghabiskan waktu untuk menangkap ikan. Walau hanya dengan menggunakan pancing, hasil tangkapan yang diperoleh begitu banyak. Ikan ikan tersebut bernama ikan Dori. Konon, jenis ikan tersebut berasal dari sebuah sungai yang disebut Sungy Dori yang terletak tidak jauh dari tempat itu.

Hampir petang, Earl beserta rombongan memasuki sebuah selat yang sempit antara Tanjung Batublatt dan sebuah pulau yang terdekat dengan pulau Lamakutan. Sebuah deretan batu-batuan berbentuk spiral yang tingginya antara sepuluh hingga dua puluh kaki berangkai sambung menyambung sepanjang pantai di kaki bukit. Earl mengatakan, sangatlah mustahil dan kurang tepat bila dilihat dari bentuknya yang sistematis dan indahnya batu itu disebabkan oleh benturan gelombang laut. Setelah melalui pantai, nampak menurun landai ke arah belantara yang seakan-akan menyelimutinya. Di sisi sebuah bukit yang kelihatan dari kejauhan seperti diurus dan diolah secara rapi dan bertingkat tinggi.

Menjelang senja hari, Earl beserta rombongan mendekati sebuah muara sungai yang diperkirakan itulah sengai Sinkawan, seperti yang diceritakan dua Cina yang berada di Sungy Ryah. Earl kemudian memerintahkan anak buahnya membuang jangkar di pantai yang berjarak kira-kira empat mil dari muara. Pembuangan jangkar tersebut dilakukan karena kedangkalan air yang tidak memungkinkan kapal untuk merapat lagi. Keesokan harinya, Earl beserta rombongan baru memutuskan turun dengan sekoci. Saat itu fajar telah menampakkan diri dari ufuk timur. Perjalanan Earl bersama rombongan menuju sungai dihalangi kabut. Sementara semakin mendekat ke sungai, air pun semakin dangkal. Earl terpaksa berhenti mendayung sambil menunggu kabut yang sudah mulai menipis, sehingga memungkinkan muara sungai dapat dilihat dengan jelas.Berselang beberapa menit, dari kejauhan terdengar suara dari kelompok orang pada jarak kira-kira seratus yard. Salah seorang diantaranya melantunkan sebauh lagu Melayu berlirik pantun. Karenanya Earl menduga orang-orang tersebut merupakan orang Melayu yang menggemari pantu-pantun. Dan duagaan Earl tersebut terbukti dan benar. Begitu kabut menipis, jelas nampak dari kejauhan di muara sungai dua buh perahu perang besar. Dengan melihat perahu-perahu tersebut, rombongan Earl segera memukul gong secara bertalu-talu.

Mula-mula Earl mengaku merasa was-was dengan kedatangan dua kapal tersebut. Namun perasaan itu hilang karena pada saat itu perahu nampak mengibarkan bendera Belanda dan panji-panji yang menerangkan bahwa mereka adalah perahu-perahu penjelajah Belanda. Setelah berhadapan, Earl mengaku baru mengetahui bahwa dalam kapal sebesar itu tidak ada seorangpun yang berkebangsaan Eropa, namun sebagai komandannya adalah seorang keturunan Melayu. Menurut komandan perahu besar terebut, mereka diutus Residen Sambas untuk memberitahukan kepada romobongan Earl agar mau membatalkan kunjungannya. Dengan alasan, orang-orang Cina yang ada di Sinkawan sangat antipati terhadap orang asing.

Namun penjelasan utusan Residen Sambas tidak membuat niat Earl berubah. Earl tetap berkeras hati untuk tetap menjalin hubungan dagang. Dengan sikap Earl tersebut membuat utusan Residen melunak. Dan mereka menawarkan diri untuk ikut bersama Earl. Earl kemudian mempersilahkan para utusan tersebut duduk dalam sekoci. Sebuah perahu milik utusan mengikuti dari belangkang sekoci tersebut.Earl memperkirakan lebar sungai yang dilaluinya sekitar lima belas yard dengan kedua tepinya tertutup oleh hutan-hutan yang tebal serupa dengan Sungy Ryah. Pepohonan penuh dengan kera. Setelah mengarungi sungai kira-kira tiga mil, sampailah Earl di Sinkawan untuk segera menuju ke rumah pemimpin-pemimpin mereka yang disebut Kung Se. saat itu rumah Kung Se hanya ditunggui oleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Laki-laki itu kemudian segera pergi berangkat ke pusat kota untuk memberitahukan kepada Kung Se tentang kedatangan Earl dan rombongan. Tidak lama kemudian, datanglah tiga orang Kung Se diikuti oleh sebagian besar penduduk.

Earl beserta rombongan kemudian dipersilahkan masuk untuk mengambil tempat di sebuah kursi besar. Sedangkan Kung Se dan kedua penterjemah duduk dikursi berhadapan dengan Earl. Perbincangan itu disaksikan sebuah patung dewa yang menduduki tempat di ujung bagian atas dari ruangan. Earl kemudian langsung mengutarakan maksud kunjungan serta ingin mengetahui apakah ada keinginan di pihak mereka untuk membuka hubungan dagang. Selain Earl dan para Kung Se, pada ruangan besar tesebut juga dipenuhi orang-orang Cina yang masing-masing merasa berhak untuk berbicara dan mengutarakan pendapatnya dalam diskusi, serta berusaha untuk saling melebihi dalam memperdengarkan suara. Akhirnya Earl merasa pertanyaan yang diutarakannya tentang hubungan dagang menjadi semakin hiruk pikuk. Akhirnya, untuk menunggu jawaban dari para Kung Se, Earl memutuskan untuk bergembira melepaskan diri dengan alasan untuk melihat-lihat kota. Ketika keluar dari rumah Kung Se, Earl memperhatikan komandan dari perahu penjelajah beserta pengikutnya yang semula juga ikut hadir sudah mulai meninggalkan pertemuan tersebut.

Hasil pengamatan G. Earl, pada tahun 1834, Kota Sinkawan hanya terdiri dari sebuah jalan dengan rumah-rumah kayu yang rendah. Ruanga depan dipergunakan sebagai warung tempat berjualan gandum, daging, barang-barang makanan dan minuman, atau ruangan-ruangan yang disediakan untuk menghisap candu. Rumah Kung Se sendiri terpisah dari kota, terdiri dari sebuah ruangan yang luas untuk transaksi urusan umum dan perniagaan, serta beberapa ruangan yang lebih kecil untuk keluarga dan Kung Se sendiri. Kediaman Kung Se dilingkari oleh dinding tanah dengan halamn berumput yang bersih. Sebuah gerbang menghadap ke kota yang didekatnya ditempatkan meriam-meriam putar, yang masing-masing dapat memuntahkan peluru seberat satu pound.

Penduduknya hampir keseluruhan China, terkecuali beberapa orang melayu. Saat itu kota hampir kosong dari laki-laki karena semua pergi ke kediaman Kung Se dan sementara itu toko atau warung hanya dijaga oleh perempuan yang sebagian besar orang China. Meskipun Dayak merupakan mayoritas penduduk asli pulau Borneo, namun kebanyakan bertempat tinggal di pedalaman. Perempuan-perempuan Dayak hanya satu dua yang tinggal di Kota Sinkawan dan nampak agak heran melihat orang-orang Eropa. Mungkin satu dua orang yang pernah melihat namun karena sifat pemalunya barangkali yang menyebabkan tak dapat menyembunyikan keheranan mereka.

Beberapa diantaranya tampak cantik dan manis serta penuh daya pikat, meskipun ditempatkan di Eropa sekalipun. Raut muka perempuan Dayak mirip dengan Melayu, namun kebanyakan lebih terang warna kulitnya, bahkan banyak yang lebih bersih dari perempuan-perempuan China. Sedang beberapa diantaranya dengan muka kemerahan diterpa matahari sehingga lebih manis. Earl mengaku belum pernah melihat suku-suku lain yang mempunyai perempuan secantik dan semanis Dayak. Hanya dua orang lelaki Dayak yang dijumpai Earl, dan salah seorang darinya dapat berbahasa Melayu. Ketika Earl mengajukan pertanyaan, Earl tidak berhasil medapatkan jawaban sepatah kata pun.
Sebelum bertemua dengan Dayak, Earl hanya mendengar bahwa orang Dayak merupakan orang terasing, keras, serta kejam. Namun ketika berjumpa di Sinkawan, Earl sangat terkejut karena Dayak tersebut begitu sopan dan menarik dalam pembawaannya.

Setelah melakukan pengamatan. Earl kembali ke rumah Kung Se. Ia disambut dengan tembakan meriam tiga kali, sedangkan kemunculan Earl secara mendadak pertama kali tak memungkinkan mereka berbuat serupa. Masih juga terdengar pembicaraan mereka yang sangat bising tetapi segera berhenti dan terdiam ketika Earl memasuki ruangan. Kung Se kemudian mempersilahkan duduk di kursi besar di hadapannya. Kelihatan bagaimana sulitnya Kung Se memulai pembicaraan dan sekarang barulah jelas bahwa Belanda yang berkuasa penuh dilautan saat itu memblokade semua wilayah pantai dengan efisien. Belanda melarang semua hubungan niaga dengan dunia luar. Khususnya China dilarang untuk berhubungan dengan siapapun terkecuali bila melalui kedudukan mereka di Pontianak atau Sambas. Itu sebabnya Kung Se ragu-ragu untuk membuka pelabuhan karena takut dianggap melanggar peraturan tersebut. Sebenarnya mereka khawatir juga bila hubungan dagang tersebut tidak Aarl lanjutkan karena memang sudah lama didambakan.

Kung Se mengharapkan dengan sangat agar Earl menunggu sampai mereka berhubungan dengan Gubernur China yang bermukim di Monterado sebagai ibu negeri. Letak ibu negeri tersebut terletak sejauh kira-kira tiga puluh lima mil perjalanan yang berakibat bagi Earl tertundanya masalah itu paling sedikit empat hari. Karena keinginan para Kung Se, Earl pun berketetapan untuk ke Sambas dan berusaha untuk membereskan persoalan itu dengan Residen Belanda yang ada di sana. Earl beserta rombongan meninggalkan rumah Kung Se. kepergian mereka diiringi banyak penduduk. Earl menuju sekoci dan ia diharapkan oleh penduduk agar dapat cepat kembali ke Sinkawan.

Sesampainya di muara, kedalaman air menginjinkan Earl beserta rombongan untuk meneruskan perjalanan ke kapal, dan terpaksa Earl menambatkan pada salah satu dari perahu jelajah sampai air pasang tiba. Salah satu dari perahu-perahu kecil tidak nampak, kemungkinan telah dikirim ke Sambas utuk melaporkan kedatangan Earl di pantai kepada Residen. Sore hari, Earl berserta rombongan tiba di kapal dan setelah sauh diangkat rombongan dengan kapal Stamford tersebut bertolak ke arah muara sungai Sambas yang terletak kurang lebih dua puluh lima mil sebelah utara Sinkawan. Kira-kira pukul tujuh malam, Earl melintasi sungai Slaku yang ditepinya berada kota Slaku.

Beberapa tahun yang lalu, kota ini pernah mengalami kemajuan perniagaan yang cukup baik namun berakhir dengan adanya serangan malam mendadak oleh suku Dayak, dan hampir sebagian besar penduduknya tewas. Pada tengah malam, Earl tiba di muara sungai Sambas kurang lebih enam mil dari daratan, pada kedalaman lima depa sauh diturunkan. Dua belas Maret 1834 keesokan harinya, pada siang hari Earl turun ke Sekoci bersama dengan seorang kerani (juru tulis) China dan empat orang menuju Sambas dengan maksud untuk membereskan masalah tugas dengan residen Belanda.

Aliran sungai Sambas luar biasa besar dan Earl yakin atas prospek negeri tersebut dengan perairan yang begitu bernilai. Sesudah memasuki sungai itu, suatu jangkauan yang lurus terbentang di hadapannya selebar tiga mil yang seakan merupakan suatu terusan antara daratan. Sedangkan panjangnya tak mungkin diukur dengan pandangan mata. Tepi-tepi sungai tertutup oleh batang-batang kayu yang rimbun dan tak satu pun rumah kelihatan. Tidak sejengkal tanah pun yang sudah diolah, bahkan tidak seekor hewan pun yang kelihatan dapat mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian. Suatu keheningan yang mencekam suasana, kecuali hanya bunyi dayung sekoci.Di kala senja, Earl terbangun dalam suasana yang terasa tidak menggembirakan. Malam mulai turun, sedangkan masih harus dicapai jarak sejauh dua puluh mil untuk sampai di kediaman penduduk, belum lagi mereka harus berbelok memasuki anak sungai sejauh empat belas mil dari muara. Ketika di Sinkawan hanya di beri petunjuk secara umum oleh penduduk Melayu tentang Rute yang harus di tempuh karena kemungkinan untuk tersesat dapat saja terjadi.

Pukul sepuluh malam, rombongan Earl memesuki sebatang anak sungai yang lebarnya lebih kurang seratus yard, dan diperkirakan Sambas terletak di tepi sungai tersebut. Belum sampai satu mil memasuki sungai, tiba-tiba mereka mendengar suara perahu yang mendekat. Dari suara dayung yang ramai, mereka yakin perahu itu berawak banyak. Sebagai lazimnya sungai-sungai besar seperti ini setiap orang yang di jumpai dianggap musuh. Mereka segera berhenti mendayung serta cepat meluncur dibawah bayangan di tepi sungai. Perahu yang tak dikenal itu tetap melaju ke hilir di tengah sungai yang deras. Selanjutnya Dalam perjalanan tak ada hal-hal yang istimewa yang mengganggu, selain binatang-binatang besar tatkala melintas di tepi sungai. Dari suara yg aneh dan khas, anak buah Earl menyimpulkan suara itu suara orang utan. Apapun ia yang pasti memiliki kekuatan yng besar dan tenaga lur biasa. Sebatang pohon di tepi sungai dengan mudah diobrak-abriknya sehingga porak poranda. Untuk saat itu masih tredengar suara dengusnya namun tidak mengikuti kepergian mereka.
Esok harinya ketika fajar menyingsing Earl tiba di Sambas. Rasa senang,lega dan puas meliputi seluruh anggota rombongan. Meskipun secara non stop berdayung hampir selama tujuh belas jam namun tidak terasa lelah.

Setibanya di kota Sambas, Earl segera menjumpai tuan Rumswinkle, residen Belanda di kota itu. Dijelaskan olehnya bahwa peraturan dan ketentuan pemerintah Belanda di Batavia tak mengijinkan Earl untuk mengadakan hubungan dagang dengan Cina di wilayah Sinkawan. Namun menurut residen ia akan berusaha membantu sedapat mungkin asal kapal Stamford dibawa ke Sambas. Saat itu pelabuhan Sambas baru saja dibuka untuk semua kapal dengan bendera apapun. Untuk itulah maka Earl menugaskan kerani Cina untuk mengadakan survey dan penelitian yang mendalam tentang keadaan pasar. Ternyata sekembalinya ia memberikan laporan yang sangat positif dan prospek yang penuh harapan sehingga Earl memutuskan putuskan untuk membawa kapal Stamford ke Sambas.Jam enam petang, Earl meninggalkan Sambas dengan sebuah Yacht kecil milik tuan Rumswinkle. Tiba di muara sungai petang harinya tanggal 12 Maret. Baru keesokan harinya mereka menyusuri sungai Sambas dan bermalam di muara anak sungai. Keesokan harinya lagi, baru perjalanan di lanjutkan kembali.

Dalam perjalanan nampak dedaunan di tepi sungai yang berjarak pandang kira-kira lima puluh yard bergerak-gerak secara teratus. Ternyata beberapa buah kano kecil dengan sejuamlah orang didalamnya mencoba menyembunyikan diri. Rupanya mereka adalah suku Dayak yang kadang-kdang turun ke hilir untuk menangkap ikan. Dua diantaranya berhasil diyakinkan dan dibujuk untuk naik ke papal. Dari gerak gerik mereka, Earl berkesimpulan mereka belum pernah bertemu dengan orang Barat tetapi sikap perilaku mereka sangat sopan dan tertib. Saat mereka akan kembali ke kano, Earl bekali masing-masing dengan tembakau yang sangat mereka gemari. Sepatah dua patah bahasa Melayu mereka ucapkan.Tatkala tuan Rumswinkil menyusul mereka dari Sambas, menyatakan bahwa Earl sangat beruntung dapat bertemu dengan mereka karena ia pun belum pernah bertemu dengan suku Dyak dalam jumlah kecil dan secara bebas jauh menghilir ke sungai dengan kano-kano mereka dalam ukuran panjang kurang lebih sepuluh kaki. Terbuat dari hanya satu batang kayu dan hanya digunakan untuk melintasi aliran sungai yang deras di pedalaman.(Bersambung....)

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCpenney Printable Coupons