Selama kurang lebih 45 menit, saya menonton sebuah film dokumenter era 1930-an, disebuah perkampungan dayak dipedalaman Borneo. Saya tidak tahu persis, siapa yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari Dayak ini, yang saya tahu hanyalah bahwa saya mendapatkan film ini dari kakak yang yang berprofesi sebagai suster dikongregasi SND, sekarang dia bertugas di perbatasan Flores-Timor Leste. Film ini diawali dengan perjuangan 9 orang Dayak, yang mudik sebuah sungai dengan tiga buah perahu besar dan sangat panjang, mungkin panjangnya sekitar 6-8 meter. Tubuh mereka kekar dan berotot. Rambutnya dipotong (mirip pendekar shaolin). Mereka berteriak-teriak, saling memberi semangat. Dengan beberapa batang tongkat bambu, mereka menerjang arus sungai yang sedemikian deras, berliku, terjal dan penuh bebatuan....