Pages

Adat Pertanian Dayak Salako

Adat pertanian ini sering disebut juga sebagai adat kauma katahutn atau Adat patahunan , yakni semua bentuk adat mengenai hal-hal yang menyangkut pertanian (bersawah-berladang) diantaranya ialah :
1. Nabo’ panyugu babatak ngawah . Panyugu tahutn ditabo’ ( diawasi ) dengan mengadakan remahan manok (ayam ), untuk meberi tau kepada orang tua, Pama Jubata bahwa akan dimulainya kegiatan pertanian sawah-ladang. Inti persembahan remahan agar diberkati petahunanya, diberikan rejeki dan keselamatan dalam mengerjakannya. Hal ini juga dimaksutkan supaya mengerjakan ladang dengan serentak sesuai dengan perjanjian antara ne’ Jaek orang talino yang mula-mula menemukan bibit padi dengan tikus, limpango ( hama wereng ) dan pipit. Menurut cerita mereka sepakat untuk memberikan biji padi itu kepada talino, tetapi dengan syarat menebur benih harus serentak, jika terlalu cepat kata pipit, itu bagian kami : Jika terlalu lambat itu bagian kami kata limpango ( hama wereng), jika tidak terrumput itu bagian kami kata tikus. Jadi keserentakan itu dimaksutkan untuk mengurangi srangan hama.
2. Ngawah. Setelah dilaksanakan Adat babatak ngawah, tiga hari kemudian dapt diadakan ngawah yaitu untuk mencari dan nyongko’ pahuma. Acara dimulai dengan mato’ atau nyongko’ tanah dengas menebas seberapa luas lahan yang akan dijadikan ladang, sementara itu sambil menebas ia mendengarkan suara burung ( keto, buria’, kutuk dan lain-lain ) sebagai pertanda alam bahwa ia diperkenankan atau tidak berladang ditempat itu. Selain itu banyak lagi pertanda lainya termasuk mimpi dsb. Jika pertanda baik berarti morokng maka penebasan diteruskan. Mula-mula sebelum menebas tanda ngawah, ia harus meninggalkan sirih masak/ sirih sekapur, untuk meminta kepada Jubata.
3. Babatak Nabakng. Sebelum nabakng ( menebang kayu ) terlebih dahulu diadakan upacara Adat atau remahan yang diadakan ditengah uma dimaksutkan untuk memberi tau jika ada roh-roh halus ditempat itu supaya menyingkir pindah dan jangan menggangu orang yang menebang kayu supaya aman dan selamat.
4. Nugal. Setelah ladang dibakar, maka tidak lama kemudian ladang boleh ditugal. Benih yang akan ditanam pagi-pagi sudah dibawa keladang dan ditaruh kepabanihan. Pabanihan dibuat ditengah ladang. Setelah diadakan remahan barulah aleatn ( tenaga gotong royong ) diperbolehkan nugal masing-masing mengambil bibit padi dipabanihan, dan dapat diambil lagi bilaman persiapan yang dibawa sudah habis. Jadi pabanihan seolah-olah pangkalan atau terminal.
5. Ngarapat/ Ngamalo Lubakng Tugal. Ngarapat lubakng tugal ialah suatu upacara Adat yang diadakan setelah tiga hari atau beberapa hari setelah selesai nugal maksutnya supaya lobang bekas yang ditugal seoleh-olah trtutup tidak kelihatan oleh burung dan lain sebagainya sehinga padi yang ditugal tidak dimakan, maka padipun hidup semua tidak popor.
6. Nabo’ Uma Ngiliratn Panyakit Padi. Ngiliratn panyakit padi telah ditetapkan oleh Dewan Adat pelaksanaanya pada tanggal 7 Nopember setiap tahun ialah adat untuk mengusir penyakit padi ( diiliratn atau diberangkatkan dengan kapal atau perahu yang terbuat dari pelepah sagu ) di sungai. Remahanya diadakan ditengah uma dengan ayam satu dan palantaratnnya ditaruh diatas kalangkakng pabayo. Segala baho’ padi seperti rate padi, ampe-ampe dan lain-lain diberangkatkan didalam perahu agar sawah atau ladang tidak tergangu oleh hama dan penyakit padi.
7. Ngalajukatn. Ngalajuk adalah suatu upacara Adat baremah, ka’ uam dengan remahan macah talo’ pada saat padi masih hidup, maksud supaya padinya bertumbuh dengan baik dan subur.
8. Nurutnni’. Nurutnni’ adalah suatu upacara Adat dengan rmahan talo’ ayng dilaksanaakan beberapa saat sebelum menuai padi baru, maksudnya supaya padi yang akan dituai jangan terkejut dan agar membawa baerkat.
9. Ngabati’. Ngabati’ ialah suatu upacara Adat yang diadakan sebelum menuai padi atau sebelum padi dituai cukup dengan remahan talo’ yang diadakan didekat pabanihan. Sesuai dengan namanya Ngabati’ maka beberapa pohon padi diikat bersama biasanya disertai dengan peraga seperti pasir dan air, maksid supaya padi yang akan dituai tidak baginsit atau titik-titik atinya tuayannya tidak melaju, seperti menceduk air dan pasir.
10. Ngiliratn Antu Apat. Ngiliratn Antu Apat adalah : Suatu upacara Adat yang diadakan. Ngiliratn antu apat ialah suatu upacara Adat pada saat sedang mulai panen di Ladang yang telah ditetapkan oleh Dewan Adat pada tanggal 17 Pbruari setiap tahun dengan remahan manok di pabarasatn. Dimaksudkan untuk memulangkan hantu apat sipembawa panceklik dia dihilirkan dengan kapal atau perahu dari pelepah sagu agar dia pulang kenegrinya jangan lagi menggangu pertahunan.
11. Muung. Muung adalah suatu upacara Adat mengetam padi, muung bisa dilakukan karena pamolotatn atau sinsangi’, tapi bisa karena tidak direncanakan atau disinsangi’ an terlebih dahulu, misalnya seseorang mempunyai ladang yang cukup luas dan buah padinyapun cukup luas dan sehingga ia berkinginan minta bantu mengetam dengan penduduk kampung dengan acara muung. Jadi muung adalah sebenarnya bentuk gotong royong yang di Adatkan atau yang disertai dengan upacara Adat. Ada pula bentuk gotong royong yang mengerahkan penduduk kampung tampa harus disertai dengan Adat seperti nyurukng gare’ maranggi, nyurukng timako dll.
12. Muat Langko. Supaya memudahkan penjemuran padi maka setiap musim panen dibuatlah langko. Semua hasil panen dimasukkan didalam langko setelah selesai panen dan diperkirakan padinya sudah cukup kering maka padi yang didalam langko itu dipindahkan kedalam dang. Pemindahan padi dari langko ke dango itu dilaksanakan dengan upacara Adat baremah dengan ayam satu didalam langko yang disebut muat langko atau muat padi ka’ langko.
13. Niduratn padi. Perlakuan terhadap padi dimaksudkan perlakuan terhadap manusia, ramah, sopan, tidak ramong ( kasar ) dll. Jadi padi yang ada didalam dango itu seolah-olah seperti manusia yang ditidukan, tak boleh digangu, diusik dan sebagainya. Jadi dengan demikian maka hal ini disebut niduratn ( Nidurkan ) padi.
14. Naik Dango. Dango padi ialah sebuah bangunan rumah kecil semacam gudang kecil tempat penyimpanan padi atau semacam lumbung padi. Bangunan rumah dango itu memang biasanya lebih tinggi dari tanah sehingga bangunannya memerlukan tongkat, oelh karena itu timbullah istilah naik dango, karena setiap kali akan mengambil padi kita harus naik kedalam dango. Setelah padi ditidurkan beberapa lama, padi itu baru boleh diambil kalau sudah diadakan upacara Adat naik dango. Remahannya bisan dengan ayam dan bisa juga baremah dengan babi. Bersamaan dengan remahan ka’ dango, diadakan pula remahan ka’ tangah sami’, baremah ka’ tangah milik, baremah ka’ pabarasatn, baremah ka’ sado manok ( ayam ), Baremah ka’dulakng jalu ( babi ). Adapun maksud remahan tersebut ialah :
1. Baremah ka’ dango, bersukur ka’ pama Jubata atas hasil panen yang diperoleh, dan berdoa agar panentahun depanya lebih meningkat lagi.
2. Baremah ka’ sami’ ( ruang tamu ) mensyukuri rejeki yang dinikmati selama satu tahun yang lalu dan mohon untuk tahun depan kiranya mendapat rejeki melimpah lagi.
3. Baremah ka’ tangah milik, bersyukur telah diberkati kesehatan dan mohon ditahun mendatang supaya diberkati lagi.
4. Baremah ka’ pabarasatn, bersyukur atas rejeki yang didapat sehari-hari berupa makanan yang disantap itumenjadikan berkat.
5. Baremah ka’ sado manok ( ayam ), bersyukur atas hasil ternak ayam dan berdoa kiranya ayamnya berkembang lebih banyak lagi, seperti yang dikatakan : bamanok sasige aur.
6. Baremah ka’ padulangan atau dulakng jalu, bersyukur dapat memilhara jalu dan berdoaagar ternak babinya berkembang biak seperti yang dikatakan : Bajalu sakumakng jati’.

15. Balala’. Disebut juga Lala’ nagari ialah suatu upacara Adat yang diadakan di panyugu nagari untuk memberi tau kepada Pama Jubat tentang akan dimulainya pantang lala’ selama tiaga ( 3 ) hari secara serentak dalam binua. Itulah sebabnya disebut lala’ nagari. Lala’ nagari itu dimaksutkan untuk mempersiapkan pisik dan mental guna menghadapi patahunan baru dan memohon berkat dari Jubata. Agar dapat mengerjakan sawah dan laang serta diberikan pula kesehatan. Pelaksanaan lala’ nagari diserahkan sepenuhnya kepada imam pamangko’ roba dan pantang lala’nyapun berbeda-beda sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh imam pamangko’ roba. Roba atau semacam pangkalan tempat balala’( berpantang ) adalah tempat terhimpunnya acara lala’ seperti bacalek dan lain sebagainya di rumah kediaman pamangko’ roba. Lala’nya bermacam-macam misalnya : Lala’ tamakng artinya tidak dapat menerima tamu hingga batas sore hari selama tiga ( 3 ) hari lamanya. Apabila tamunya kedapatan hingga sorehari bacalek, dia masih belum keluar meningalkan kampung, maka ia harus menginap atau ditamakng dan yang dipantangkan atau lala’ antara lain : Tidak boleh keladang atau ke ladang, tidak boleh membunyikan senapang, tembaga ( maksudnya gong, tetawak ) tidak boleh makan daging dan ikan segar, kecuali ikan asin, tidak boleh melayu’/ menebas, dan tidak boleh makan sayuran yang dipetik selama dalam masa balala’ ( termasuk melayu’ ) dan lain-lain menurut petunjuk imam. Lala’ nagari telah ditetapkan oleh Dewan Adat tanggal 28 Mei setiap tahun. setelah selesai lala’ nagari barulah diadakan upacara Adat nabo’ panyugu babatak ngawah sesuai dengan urutan siklus baremah ka’ uma ka’ tahutn selama satu tahun. Adat babatak ngawah telah kita bahas terlebih dahulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar